Pakar UB: Transformasi Tenaga Kerja Sektor Pertanian Penting Diperhatikan

Pakar Ketahanan Pangan UB Dr. Sujarwo, S.P.,M.P memaparkan mengenai dinamika sektor pertanian.

MALANG- Struktur ekonomi dimana share sektor pertanian yang terus menurun memang wajar di seluruh negara, demikian disampaikan Pakar Ketahanan Pangan Universitas Brawijaya (UB), Dr. Sujarwo, S.P.,M.P.

Menurutnya, hal itu menunjukkan laju pertumbuhan sektor lain seperti industri dan jasa, serta pedagangan yang meningkat lebih cepat dibanding sektor pertanian.

“Yang penting sebenarnya transformasi struktur ekonomi ini juga diikuti transformasi tenaga kerjanya sehingga labor productivitynya juga meningkat,” katanya dalam acara ‘Bincang dan Obrolan Santai (Bonsai) Bersama Pakar’ di UB Coffee, Selasa (30/3/21).

Pasalnya, jika tidak diikuti oleh transformasi tenaga kerja yang berpindah dari sektor pertanian, maka akan berpotensi meningkatnya ketimpangan dan marginalisasi sektor pertanian itu sendiri.

Dalam perspektif mikro, memang terlihat bahwa tenaga kerja di sektor pertanian pada umumnya rerata usianya makin tua.

Dr. Sujarwo, S.P.,M.P

“Dan nyaris para petani ini ekonominya begitu-begitu saja. Peran serta pemerintah dan industri pangan sangat dibutuhkan untuk memperkuat sektor tani ini,” beber Sujarwo.

Dia menilai, regenerasi petani terhambat karena pandangan bahwa sektor pertanian bukanlah sektor yang menguntungkan.

“Orang bekerja di sektor pertanian hanya karena memang tidak punya pilihan untuk bekerja di sektor lain yang upahnya atau keuntungannya lebih baik,” lanjutnya.

Stereotif ini kemudian menjadikan sektor pertanian semakin ditinggalkan dan menjadi inferior.

Realitas juga menguatkan hal ini dengan diketahuinya problem produksi dan pasar di sektor pertanian tidak kunjung terbenahi sehingga saat panen harga seringkali jatuh dan merugikan petani.

“Kapan hari kelompok tani ramai tentang industri yang mengimpor bahan pokok, akibatnya harga bahan pokok lokal semakin jatuh,” sambung pria ramah ini.

Dia beranggapan, bahwa pertanian sebenarnya tetap merupakan sektor yang memiliki potensi menghasilkan profit tetapi memang harus dikelola dengan benar dan profesional, maka hasilnya juga akan sangat menguntungkan.

“Namun upaya pemerintah juga terbilang bagus agar bisa menstabilkan harga tersebut, salah satunya dengan program tunda jual dimana para petani terakomodir dengan baik hasil panennya,” imbuh Sujarwo.

Tunda jual merupakan suatu tindakan melakukan stabilisasi harga komoditas pertanian dengan cara tidak langsung menjual komoditas tersebut pada saat panen (harga rendah) melainkan menyimpan terlebih dahulu dan menjual pada saat harga dirasa stabil.

“Hal yang penting dilakukan adalah terus melakukan edukasi kepada generasi muda akan potensi dimiliki sektor pertanian untuk dikelola dengan baik, responsif terhadap perubahan teknologi dan pasar,” paparnya.

Kedua aspek ini jika diperhatikan dalam produksi pertanian maka pertanian akan maju dan berpotensi mendinamisasi perekonomian secara makro dan yang diharapkan adalah adanya linkage yang baik konsumsi, produksi, investasi dan penerimaan pemerintah melalui sektor pertanian.

“Jika keterkaitan ini terbina dengan baik, maka pertumbuhan makro kita akan semakin kokoh karena bertumpu pada endowment factor yang dimiliki bangsa ini,” pungkas Sujarwo. (red)

Baca Juga: